12 Jan

Peluang Bisnis Era TV Digital

Jakarta (12/1/2015): Era TV digital telah tiba. Sejak akhir 2012, komersialisasi penyiaran TV digital telah dimulai. Namun demikian, implementasi teknologi penyiaran yang berdampak pada efisiensi pemanfaatan spektrum frekuensi ini berjalan penuh liku. Tidak mudah dan tidak mulus seperti yang diharapkan. Pro Kontra muncul di kalangan stakeholder industri penyiaran. Kebijakan yang telah diterbitkan pemerintah cq. Kemenkominfo yaitu Peraturan Menkominfo Nomor 22 tahun 2011 digugat oleh sekelompok Asosiasi dan Mahkamah Agung memutuskan agar Permen tersebut dicabut. Untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan implementasi penyiaran TV digital mengingat infrastruktur  telah dibangun oleh operator multipleksing TV digital, Kemenkominfo menerbitkan Peraturan Menkominfo Nomor 32 tahun 2013 sebagai payung hukum penyelenggaraan penyiaran TV digital dengan konten yang telah disesuaikan dengan putusan MA.

Terlepas dari lika liku perjalanan TV digital tersebut, seluruh pemangku kepentingan mengakui bahwa penyiaran TV digital adalah suatu keniscayaan yang mau tidak mau akan dialami oleh semua negara dimana pun di dunia. Dan, bahwa penyiaran TV digital menciptakan peluang bisnis baru, kesempatan kerja baru yang dapat mengurangi angka pengangguran sehingga dapat meningkatkan perekonomian negara.

Terdapat peluang usaha bagi reseller atau distributor set-top-box (alat bantu penerima siaran TV digital). Setiap TV yang bukan TV digital DVB-T2 yang ada di setiap rumah membutuhkan perangkat STB untuk dapat menonton siaran digital. Jumlah set-top-box yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak jumlah TV yang ada dan diperkirakan lebih dari 40 juta unit. Jika rata-rata satu unit STB seharga Rp. 300,000 dikalikan 40 juta, maka nilai peluang ekonomi yang ada sebesar 12 trilyun Rupiah.

Selain itu, kebutuhan akan konten siaran baru akan menumbuhkan industri konten kreatif. Kebutuhan akan konten-konten yang berkualitas juga memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas, inovatif dan kreatif. Konten-konten tersebut akan mengisi slot-slot siaran yang tersedia pada setiap multiplekser. Jika dalam suatu wilayah layanan terdapat 5 multiplekser (mux) dan setiap mux menyalurkan 9 slot/saluran siaran maka akan ada 45 program/konten siaran yang bervariatif di wilayah tersebut. Jika saat ini terdapat 23 program TV di Jabodetabek, maka akan ada penambahan hampir dua kali lipat  program siaran yang baru.

Oleh karena itu, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana cara menangkap peluang yang muncul dari adanya transisi teknologi siaran dari TV analog ke digital tersebut agar memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. (*)